Jaga Indonesia dari Pengaruh Komunis dari Dalam Maupun Luar Negeri

Indonesia merupakan negara merdeka yang memiliki sejarah pemberontakan yang sangat panjang. Dari DI/TII hingga pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Berbagai istilah pun digunakan untuk memberi identitas bagi masing-masing kelompok yang dominan dalam gerakan nasional pada waktu itu.

DI/TII merupakan gerakan ketidakpuasan kalangan Islam terhadap pemerintah Indonesia yang tidak memberikan hak-hak legislatif kepada kalangan Islam. Mereka merasa bahwa mereka telah berjuang mati-matian dalam memerdekakan Indonesia. Adapun kelompok kiri yang senang menggunakan warna merah sebagai simbol keberanian, Partai Komunis Indonesai termasuk dari golongan ini. Persaingan pengaruh dan kekuasaan di berbagai lembaga pemerintah dan di kalangan rakyat terus bergolak. Basis utama kelompok kanan adalah orang-orang Islam yang perduli dengan agamanya, mereka orang-orang yang taat beragama dan ingin menjalankan hukum Islam di bumi Indonesia. Adapun partai kiri Komunis (PKI) didominasi oleh buruh dan petani yang terbujuk dengan rayuan komunis yang membela nasib rakyat jelata.

Kedua kalangan yang diwakili oleh Partai Masyumi dari kalangan Islam dengan berbagai organisasi massa Islam pendukungnya dan kalangan kiri yang diwakili Partai Komunis Indonesia (PKI) dan berbagai ormas-ormas dan komunitas pendukungnya terus memasukkan ide-ide mereka dalam dinamika perpolitikan nasional kala itu.

Praktik Coup d’etat atau Kudeta terhadap negara biasanya menjadi alternatif pergerakan untuk menguasai negara. Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadikan kudeta sebagai senjata politiknya untuk menguasai Indonesia dan membawa ke arah “baru” menurut tafsiran dan visi misi mereka sendiri. Kerusuhan dan pemberontakan pecah di saan PKI berada di puncak pengaruhnya. Dengan pendukung yang tersebar di berbagai tempat, posisi, dan berbagai latar belakang lainnya, PKI melancarkan pemberontakan besar yang ujung-ujungnya justru mengorbankan Bangsa Indonesia sendiri. Ribuan orang tewas di tangan orang-orang Komunis. Jumlah besar juga tak dipungkiri jatuh di pihak pendukung Partaik Komunis PKI dimana mereka memang terlibat aktif dalam membunuh rakyat Indonesia sendiri, dari kalangan kyai dan ustadz, militer pro NKRI, dan tokoh-tokoh yang anti komunis.

Hari ini, tanda-tanda kemunculan komunis di Indonesia sangatlah nyata. Berbagai media-media dan buku-buku telah diterbitkan dengan tujuan untuk menghidupkan kembali paham komunis. Tujuan mereka dengan menerbitkan berbagai buku termasuk tulisan seorang tokoh Komisi DPR dari PDI Perjuangan, Ribka Ciptaning dengan bukunya “Aku Bangga Jadi Anak PKI” dan juga Rieke Dyah Pitaloka yang keduanya pernah mengadakan pertemuan di sebuah kafe di Banyuwangi, Jawa Timur, yaitu untuk menghidupkan kembali komunisme.

Berbagai gerakan diciptakan untuk merebut hati dan “suara” rakyat. Mereka sepertinya ingin membangun kembali Partai Komunis Indonesia walau dengan menggunakan nama yang lain sama sekali. Partai PDI Perjuangan pimpinan Megawati memang cocok untuk digunakan sebagai kendaraan politik. PDIP adalah partai oposisi pemerintah yang sejak awal mendeklarasikan dirinya sebagai partainya rakyat jelata, partainya “wong cilik”. PDI Perjuangan membuktikan langkah nyata untuk membela mereka para petani dan buruh untuk mendapatkan hak-hak mereka, atau paling tidak mencari simpati di mata para buruh dan petani. Image PDIP pembela rakyat jelata, wong cilik, pembela buruh dan petani digunakan untuk meraup suara sebanyak-banyaknya. Sangat disayangkan jika nanti akhirnya partai besar ini dijadikan kuda tunggangan agen-agen yang akan menghancurkan Indonesia kedua kalinya, dengan terjadinya peristiwa berontak berdarah PKI yaitu G30S/PKI tahun ’65 dan sebelumnya yaitu pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun.Beberapa aksi yang dijalankan kelompok Komunis ini diantaranya dengan melancarkan propaganda antipemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, pemogokan, menculik dan membunuh lawan-lawan politik, serta menggerakkan kerusuhan dibeberapa tempat, sebagaimana dijelaskan dalam banyak tulisan sejarah tentang Pemberontakan PKI.

Terakhir dilaporkan bahwa PDIP yang di dalamnya disinyalir terdapat banyak kader simpatisan Komunis seperti Budiman Sujatmiko, Ribka Ciptaning, Rieke Dyah Pitaloka, dan yang lainnya. Kemarin, hari Selasa, 11 September, PDIP bukannya melakukan acara peringatan tragedi WTC. PDIP lebih suka mengundang dan duduk bersama Partai Komunis China untuk membahas masalah perbaikan cara pengkaderan partai dan membahas masalah sosial masyarakat. Dikatakan kader PDIP, “Kedatangan delegasi dari Partai Komunis Tiongkok ini sangat berarti penting selain untuk melakukan pembelajaran mengenai pembangunan kader akar rumput serta pengentasan kemiskinan.” Ini jelas bukti nyata bahwa ada perhatian khusus kepada paham di balik Partai Komunis China. Orang-orang komunis memang sangat mengidolakan China sebagai pembela paham Komunis yang paling kuat saat ini. Tanpa melihat berbagai ketidakadilan yang dilakukan pemerintah China kepada rakyatnya, seharusnya PDIP jeli mengundang Partai Komunis ke Indonesia. China tak berlaku adil dengan menindas warga Budha Tibet dan penindasan atas orang-orang Islam di Uighur. Fakta ini tidak boleh dilupakan oleh PDIP, karena ini dapat menjadi suatu tanda yang akan dimanfaatkan orang-orang yang tak suka PDIP bahwa partai itu sudah menganut paham Komunis dan bahkan dikhawatirkan akan menjadi tempat berkumpul dan berkoordinasi pegiat Komunis untuk memunculkan kembali paham merah itu di bumi Indonesia yang damai sejahtera ini. Untuk itu, sebagai himbauan kekecewaan dan peringatan kami kepada PDI Perjuangan dan segala jajaran kepemimpinannya, agar tidak menjadikan PDI Perjuangan sebagai partai yang kekiri-kirian dan agar mengingat sejarah bangsa Indonesia. Indonesai mayoritas muslim masih ingat dengan pembunuhan para ustadz dan kyai Nusantara yang terus memperjuangkan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. PDIP supaya berhati-hati dari tangan penjajah yang terus berupaya untuk menjajah bumi Indonesia, baik kalangan blok Barat maupun blok Timur.

Indonesia sedang memperkuat diri melawan berbagai tindak korupsi dan ketidakadilan. Oleh karena itu, Kami menghimbau agar PDIP terus maju membela Indonesia dan rakyat Indonesia, dan tidak mendukung dan berkawan dengan Komunis yang memiliki sejarah Merah Kelam di Bumi Indonesia. Kita rakyat Indonesai menolak Komunisme dan menolak semua partai yang berdekat-dekatan dengan komunis, sebagaimana kami menolak penjajah penindas Israel dan segala bentuk diplomasi dan kerjasama dengan Israel penjajah nilai-nilai kemanusiaan. (antikomunisindonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s